IPB
IPB BadgeIPB Badge
January 2017
S M T W T F S
« Sep    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
Categories

Nama             : Kunti May Wulan

NRP               : I34100007

Laskar            : 30

ANAK BUTA

Berikut ini adalah kisah yang mebuat saya terinspirasi untuk selalu bersyukur dengan apa yang telah kita miliki sekarang dan berpikirlah dari sudut pandang yang berbeda. Cerita ini saya dengar dari seseorang yang kata-katanya mengubah hidup saya seperti sekarang .

Seorang anak buta duduk bersila di sebuah tangga pintu masuk pada sebuah supermarket. Yup, dia adalah pengemis yang mengharapkan belas kasihan dari para pengunjung yang berlalu lalang di depannya. Sebuah kaleng bekas berdiri tegak di depan anak itu dengan hanya beberapa keping uang receh di dalamnya, sedangkan kedua tangannya memegang sebuah papan yang bertuliskan “Saya buta, kasihanilah saya.”

Ada seorang pria yang kebetulan lewat di depan anak kecil itu. ia merogoh sakunya, mengeluarkan beberapa keping uang receh, lalu memasukkannya ke dalam kaleng anak itu.sejenak, pria itu memandang dan memperhatikan tulisan yang terpampang pada papan. Seperti sedang memikirkan sesuatu, dahinya mulai bergerak-gerak.

Lalu pria itu meminta papan yang dibawa anak itu, membaliknya, dan menuliskan beberapa kata di atasnya. Sambil tersenyum, pria itu kemudian mengembalikan papan tersebut lalu pergi meninggalkannya. Sepeninggal pria itu, uang recehan pengunjung supermarketmulai mengalir lebih deras ke kaleng anak itu. kurang dari satu jam, kaleng anak itu sudah hampir terisi penuh. Sebuah rejeki yang luar biasa bagi anak itu.

Beberapa waktu kemudian pria itu kembali menemui si anak lalu menyapanya. Si anak berterima kasih kepada pria itu, lalu menanyakan apa yang ditulis sang pria di papan miliknya. Pria itu menjawab, “Saya menulis, ‘Hari yang sangat indah, tetapi saya tidak bisa melihatnya.’ Saya hanya ingin mengutarakan betapa beruntungnya orang yang masih bisa melihat. Saya tidak ingin pengunjung memberikan uangnya hanya karena kasihan sama kamu. Saya ingin mereka memberi atas dasar terima kasih karena telah diingatkan untuk selalu bersyukur.”

Pria itu melanjutkan kata-katanya, “Selain untuk menambah penghasilanmu, saya ingin memberi pemahaman bahwa ketika hidup memberimu 100 alasan untuk menangis, tunjukkanlah bahwa masih ada 1000 alasan untuk tersenyum.”.

Sekian cerita inspirasi tersebut. Saya harap cerita ini tidak hanya menginspirasi saya tetapi juga dapat mengispirasi kalian semua yang membacanya untuk selalu mau bersyulur dengan apa yang kita miliki sekarang dan selalu mau berbagi dengan orang lain tidak hanya sekedar berbagi materi tetapi juga ilmu dan pengetahuan yang kita miliki. Kecil bagi kita tapi sangat besar artinya untuk orang lain.

Nama : Kunti May Wulan

NRP : I34100007

Laskar : 30

SEPEDA INSPIRASI

Ini kisahku sendiri. Ketika aku berusia 6 tahun tepatnya masih kelas 1 SD, aku sangat iri melihat teman-teman sebayaku bermain sepeda keliling RT dengan senangnya sedangkan aku tidak bisa seperti mereka, bukan hanya karena aku tidak bisa naik sepeda tapi juga karena aku pun tidak punya sepeda. Aku pun mengungkapkan keinginanku mepunyai sepeda kepada ibuku namun dia hanya tersenyum seraya berkata jika aku bisa naik sepeda roda dua bagaimanapun caranya, dia akan mengabulkan permintaanku untuk mempunyai sepeda namun aku tahu dari raut wajahnya tersirat keraguan akankah dia dapat mengabulkannya.

Setelah ia berjanji kepadaku seperti itu, aku sangat bersemangat untuk bisa naik sepeda roda dua dengan baik. Aku mulai mencari ide bagaimana caranya aku bisa belajar sepeda, akhirnya aku mencoba meminjam sepeda roda kepada temanku, Hasbi. Ia bersedia meminjamkan aku sepeda dengan balasan aku harus membantu dia setiap kali dia taruhan bermain kelereng, aku mengiyakan penawarannya karena aku cukup mahir bermain kelereng dan semua teman-temanku pun mengakuinya. Tanpa sepengetahuan ibuku, aku mencoba belajar sepeda. Untungnya sepeda Hasbi tidak terlalu tinggi hingga aku bisa menaikinya dengan mudah. Setiap sore aku belajar naik sepeda mulai dari yang cara biasa hingga aku mencoba naik sepeda dengan tangan satu. Semuanya lancar, ya walaupun aku harus jatuh bangun untuk itu, badan lecet sana-sini hingga ibuku heran ketika aku pulang dengan plester baru di tanganku setiap sore dan dulu memang cita-citaku ingin jadi Sherina Sang Jagoan di film Petualang Sherina, bahkan tidak jarang Hasbi juga marah kepadaku karena sepedanya aku bawa kabur hingga keliling kompleks perumahan belakang.

Saatnya tiba, aku yakin ibuku pasti akan bangga karena anaknya sudah bisa naik sepeda sendiri tanpa bantuan darinya padahal anak-anak yag lain diajarkan oleh orang tua mereka. Sore itu, saat ibuku sedang mengobrol dengan tetangga di depan warungku, aku berkata padanya “Bu, waktu itu ibu kan pernah bilang kalo Wulan bisa naik sepeda sendiri bakalan dibeliin sepeda kan? Sekarang ibu terpaksa harus beliin Wulan sepeda karena sekarang aku jagoan naik sepeda”. “Masa sih? Coba ibu mau liat dulu kalo emang bener baru ibu beliin” jawab ibuku.

Dengan sombongnya, aku meminjam sepeda ke rumah Hasbi namun sayangnya Hasbi tidak ada, kata pembantunya ia sedang pergi bersama orang tuanya. Bingung dong aku mau pinjam sepeda sama siapa sedangkan selama ini aku belajar sepeda milik Hasbi. Tiba-tiba Ka Fadli berkata “Udah pakai nih sepeda aku, waktu kemarin aku liat kamu naik sepeda si Hasbi pasti pakai sepeda aku juga bisa, Cuma beda gede sama kecilnya doang kok, semua caranya sama. Nih!” sambil memberikan sepedanya kepadaku. “Makasih yah, tapi kakak yakin aku bisa? Ini kan gede banget ka” raguku. Dengan penuh keyakinan, ka Fadli mengangguk tanda mengiyakannya.

Untuk duduk di joknya saja aku harus usaha ekstra karena jelas sepedanya jauh lebih tinggi dari badanku. Tergores betisku terkena rantai sepeda ka Fadli namun aku hiraukan. Lalu aku pun mencoba mengayuhnya, aku melihat ekspresi ibuku yang tersenyum dengan yakin dan bangga karena anaknya bisa naik sepeda. Aku pun semakin percaya diri, kembali mencoba mengayuhnya hingga aku pun bisa mengendarainya hingga beberapa meter sampai tiba-tiba keseimbanganku goyah dan brukkk… Aku menabrak tukang rujak yang sedang mangkal di depan warungku. Teriakanku terdengar hingga tetangga-tetanggaku keluar dari rumah mereka. Kakiku tertimpa sepeda Ka Fadli, lututku lecet dan sikuku berdarah karena terkena aspal namun yang aku takutkan bukan rasa sakit karena luka-lukaku tapi aku takut kaca gerobak tukang rujak itu pecah dan ibuku marah kepadaku. Namun hal yang aku takutkan itu tidak terjadi, kaca gerobaknya masih utuh seperti sebelumnya dan ibuku tidak marah sama sekali bahkan dia justru sangat mengkhawatirkan aku. Tidak lama setelah kejadian itu, saat aku pulang sekolah, aku sudah melihat sepeda BMX parkir di depan rumahku, masih mulus dan mengkilap. Ya, ibu memenuhi janjinya kepadaku. Dan karena kejadian itu, aku bukan kapok naik sepeda justru aku semakin giat belajar hingga sekarang aku sangat mahir naik sepeda di berbagai trek dan dengan berbagai ukuran sepedanya.

Sekian cerita tentang pengalamanku dengan sepeda, semoga kalian semua yang membaca cerita ini dapat terinspirasi untuk selalu berusaha menggapai semua yang kalian inginkan dan cita-citakan dengan usaha kalian sendiri walaupun itu sangat berat dan menurut kalian itu mustahil. Karena di dunia tidak ada yang mustahil jika kalian mau berusaha untuk mewujudkannya. Semua rasa sakit atas usaha yang kalian lakukan akan terbayar dengan hasil yang akan kalian dapat dan kalian pun akan lebih menghargai sesuatu yang kalian dapatkan dengan usaha keras kalian sendiri dibandingkan dengan pemberian orang lain yang kalian dapatkan dengan mudah karena itu akan jauh lebih berarti bagi kalian. Satu pesan dari saya “Jangan pernah takut untuk bermimpi dan mencoba mewujudkannya, seberapapun besarnya mimpi itu dan seberapapun sulit untuk mewujudkannya dan jika kalian punya sebuah impian, jagalah impian itu dan coba wujudkan jangan biarkan impian itu padam karena itu sama artinya dengan mati”.